Bangkitnya Identitas Kebudayaan Lampung

Sepanjang 2004, bisa dibilang, tahun kebangkitan kebudayaan di Lampung. Karena kesenian sebagai salah satu bentuk kreativitas kebudayaan bukan cuma menggeliat, juga telah bergerak dengan dinamika yang pantas dicatat. Hampir semua cabang kesenian seperti sastra, teater, seni rupa, dan seni tari, secara pasti, menorehkan jejak-jejak yang bakal menyejarah.

MEMANG, sepintas kita lihat, jejak-jejak itu mengarah pada pembentukan sebuah identitas baru bagi kebudayaan Lampung, meskipun dalam banyak hal terlihat ada upaya tidak sengaja meninggalkan identitas lamanya. Dalam dinamika realitas kehidupan modern, kehadiran identitas baru dan hilangnya identitas lama adalah risiko yang harus dipikul bersama. Ia menjadi tanggung jawab semua lapisan masyarakat sebagai implikasi dari keinginan mereka yang sangat kuat untuk membangun segala dinamika kehidupan.

Bagi Provinsi Lampung, yang secara budaya merupakan representasi keanekaragaman masyarakat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), munculnya identitas baru merupakan risiko yang tak terbantahkan. Identitas itu, bisa dibilang, hasil dialog antarbudaya yang berbeda sekaligus wujud sikap saling pengertian atas perbedaan yang ada.

Artinya, hampir semua kelompok budaya yang ada di Lampung, menyadari betul bahwa yang terpenting bukanlah siapa yang paling dominan di antara mereka. Melainkan, siapa yang paling mampu memberikan inspirasi bagi kelompok budaya lain, sehingga kreativitas dan produktivitas berkesinambungan.

Sebuah kesadaran budaya sudah tumbuh di lingkungan kita. Sebuah kesadaran dalam pemikiran kultural dikenal dengan konsep etnisitas. Etnisitas adalah sebuah konsep budaya yang berpusat pada pembagian norma-norma, nilai-nilai, kepercayaan, simbol, dan praktek-praktek budaya.

Formasi kelompok budaya menyandarkan diri pada pembagian penanda-penanda budaya yang dibangun di bawah konteks sejarah, sosial, dan politik yang khusus, yang mendorong perasaan saling memiliki, yang menciptakan mitos-mitos leluhur. Kelompok budaya tidaklah mendasarkan diri pada garis primordial atau karakteristik kultural yang bersifat universal, melainkan sebuah praktik diskursif. Etnisitas mewujud dalam bagaimana cara kita berbicara tentang identitas kelompok, tanda-tanda, dan simbol-simbol yang kita pakai mengidentifikasi kelompok.

Konsepsi kulturalis tentang etnisitas merupakan sebuah usaha berani melepaskan diri dari implikasi rasis yang inheren dalam sejarah konsep ras. Misalnya, subjek orang Lampung dan pengalama hidup mereka sebagai warga Lampung yang terpinggirkan politik “Jawaisasi” penguasa sejak zaman kolonialisme, pasti terkonstruksi secara historis, kultural, dan politis jika tidak distabilkan alam atau esensi lainnya. Salah satu upaya menstabilkannya adalah tidak mengobral etnisitas itu menjadi nasionalisme untuk membuat gerakan-gerakan etno-nasionalisme yang mengacaukan stabilitas yang ada.

Term etnisitas mengakui kedudukan sejarah, bahasa, dan kebudayaan dalam konstruksi subjektivitas dan identitas, seperti halnya fakta semua wacana selalu punya tempat, posisi, situasi, dan semua pengetahuan selalu kontekstual. Etnisitas terbangun dalam relasi kekuasaan antarkelompok. Ia merupakan sinyal keterpinggiran, sinyal tentang pusat dan pinggiran, dalam konteks sejarah yang selalu berubah.

Untuk memahami fenomena munculnya konsep putra daerah dalam dinamikan politik di daerah, misalnya, lebih pas jika dilihat dari kajian budaya. Perselisihan di daerah berbasis etnis dan mewujud dalam gerakan etno-nasionalisme yang berlangsung cukup merata di Tanah Air, sangat tidak memadai menjelaskan hal ini dari tradisi behavioralis mengingat kompleksnya persoalan ini karena menyangkut pula asal-usul sosial.

Etno-nasionalisme adalah gerakan destruktif yang menghancurkan konsep nasionalisme negara kebangsaan. Ia menjadi ancaman bagi keutuhan NKRI, yang akhir-akhir ini menjadi fenomena kebangsaan di Indonesia. Kita tidak ingin momentum otonomi daerah direcoki gerakan-gerakan etno-nasionalisme, meskipun fenomena itulah yang kini melanda kehidupan berbagsa kita.

Etnisitas Budaya

“Kebudayaan” kata Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik, “penting karena menyangkut identitas bangsa”. Jika pernyataan ini kita giring untuk memahami konteks Lampung, bisa dikatakan, persoalan kebudayaan sudah mencapai taraf menemukan identitasnya. Barangkali, sinyalemen ini akan ditentang banyak kalangan mengingat persoalan identitas sudah ada sejak lama, yakni kelokalan yang sangat kental. Tapi, kalau kita kembali pada konsep etnisitas seperti diuraikan di atas, kelokalan yang ada di Lampung tidak bisa dipahami semata-mata etnis Lampung.

Kita harus berpikir sebagai manusia yang menetap di sebuah negara kepulauan bernama Indonesia. Maka, semua pulau, semua daerah, dan semua tempat menjadi milik semua warga negara. Mengacu pandangan Benedict R. O’Gorman Anderson tentang nasionalisme, bisa dijawab mengapa orang yang belum pernah bertemu bisa merasa sama, merasa bersaudara, misalnya, sebagai orang Indonesia? Mengapa orang Jawa yang tinggal di Bandung dan sudah mengenal orang Sunda juga Provinsi Jawa Barat tetap merasa sebagai orang Jawa, dan bukan merasa menjadi orang Jawa Barat? Dengan kata lain, setiap orang yang tinggal di Lampung harus memiliki nasionalisme, bukan sebagai orang Jawa, Batak, Madura, Sunda, Bugis, Lampung atau Papua.

Dengan begitu, mereka merasa sebagai orang Indonesia sehingga tidak terlalu meributkan soal etnisitas masing-masing. Orang Sunda pada era otonomi daerah kini tidak merasa lebih sah sebagai pemilik Jawa Barat. Mereka tidak merasa lebih berhak mengurusi, memikirkan, dan memajukan daerahnya. Begitu juga dengan etnis-etnis lain, yang setiap etnis memiliki wilayah penyebaran masing-masing.

Konsep etnisitas bersifat relasional yang berkaitan identifikasi diri dan asal-usul sosial. Apa yang kita pikirkan sebagai identitas kita bergantung apa yang kita pikirkan sebagai bukan kita. Orang Jawa bukan Madura, Batak bukan Lampung, Sunda bukan Jawa, dll. Konsekuensinya, etnisitas akan lebih baik dipahami sebagai proses penciptaan batas-batas formasi dan ditegakkan dalam kondisi sosio-historis yang spesifik.

Dengan demikian, jika kita membicarakan kebudayaan Lampung, sama halnya dengan membicarakan kebudayaan nasional, sehingga yang muncul pada cipta (image) kita adalah 300 kebudayaan kelompok budaya dengan lebih dari 500 dialek yang kita kenali melalui aneka ragam kesenian dan adat istiadat. Cipta ini membangun persepsi yang melihat keragaman budaya di Lampung sebagai sebuah kekayaan budaya yang perlu dilestarikan.

Tidak umum disadari persepsi itu berpangkal pada etnologi yang muncul pada masyarakat Barat dan bertujuan memahami kebudayaan non-Barat atau culture of the other. Merayakan keragaman kebudayaan etnik non-Barat berkaitan dengan incommensurability thesis pada etnografi yang melihat setiap kebudayaan etnik bersifat eksklusif dan harus dipahami berdasarkan konteksnya. Sebab itu, kajian etnografi sampai kini menutup dengan ketat batas-batas di antara kebudayaan etnik yang satu dan kebudayaan etnik yang lainnya.

Mustahil bagi kita menggunakan tesis ini untuk mempersoalkan kebudayaan Lampung. Secara politis tidak mungkin menutup dengan ketat batas-batas kebudayaan etnik dalam pengertian dan tujuan apa pun. Pengetatan batas ini akan menjadi celah bagi gerakan separatis. Kendati gerakan separatis hampir selalu dikarenakan persoalan politik, ketertutupan budaya etnik senantiasa menjadi alasan utama.

Beberapa pendapat tentang kebudayaan yang disorongkan budayawan dan seniman, bisa dijadikan pertimbangan.

Khususnya pandangan Rachman Arge, Nirwan Dewanto, Nirwan Arsuka, dan Radhar Panca Dahana, yang secara bersama-sama bisa membentuk acuan.

Rachman Arge melihat persoalan kebudayaan mendasari seluruh persoalan kehidupan yang kita hadapi sekarang ini, termasuk persoalan sosial politik, hukum, kesejahteraan, dan ekonomi. Nirwan Dewanto menekankan persoalan kebudayaan sebagai persoalan modernitas dalam kehidupan kita. Radhar Panca Dahana melihat kebudayaan sebagai sebuah proses dan Nirwan Arsuka menekankan perlunya keterlibatan anggota masyarakat pada proses ini.

Keempat pandangan itu meninggalkan persepsi umum tentang kebudayaan. Jika dikaji, persepsi umum tentang kebudayaan melihat kebudayaan sebagai gejala kata-benda (nounish phenomenon). Sebab itu, dalam persepsi umum ini kebudayaan ditentukan kumpulan benda-benda atau gejala yang dibendakan. Kebudayaan sesuatu bangsa, misalnya, tercermin pada karya-karya puncak bangsa itu.

Kebudayaan dalam persepsi ini adalah a set of things.

Keempat budayawan itu tidak melihat kebudayaan sebagai a set of things, tapi sebagai a set of practices atau kumpulan praktek dalam sebuah proses. Kebudayaan dalam pandangan ini–mengutip ungkapan pemikir dunia ketiga Stuart Hall–bergantung percaturan makna dan nilai yang mungkin terjadi karena kesamaan persepsi (bukan akibat penyamaan persepsi), kesamaan pemahaman (bukan penyamaan pendapat), dan kesamaan rasa (intuisi). Proses budaya ini bukan penyeragaman karena percaturan makna dan nilai yang terjadi mengandung proses negosiasi dan bahkan renegosiasi berbagai makna yang sudah stabil.

Pandangan keempat budayawan itu tidak berhenti pada sesuatu teori kebudayaan.

Pandangan mereka menyuruk ke persoalan kebudayaan yang sedang kita hadapi. Nirwan Dewanto menunjuk modernitas sebagai wilayah di mana proses negosiasi dan renegosiasi makna-makna itu terjadi. Rachman Arge menegaskan modernitas ini sebagai persoalan mendasar dari semua persoalan yang sedang kita hadapi sekarang ini. Termasuk proses pemahaman demokrasi dan pemburuan kesejahteraan dan jaminan kehidupan yang tercermin pada perkembangan ekonomi.

Dinamika Kesenian

Memang ketika kita mempersoalkan modernitas, yang muncul pada cipta kita adalah pengaruh asing, masuknya nilai-nilai Barat yang mengancam nilai-nilai Timur. Sebab itu, ada keengganan melihat modernitas sebagai gejala budaya. Tapi, persepsi ini selayaknya dikaji ulang.

Modernisasi yang terjadi di seluruh dunia memang berakar pada perkembangan kebudayaan Barat. Namun, modernisasi dunia sama sekali bukan “westernisasi” dunia. Berdasarkan tesis ini bisa dipastikan modernitas sebagai dampak modernisasi tidak seragam di seluruh dunia dan tidak cuma mengandung nilai-nilai Barat.

Modernisasi pada masyarakat non-Barat adalah gejala budaya. Pemikir Inggris keturunan India, Hommi Bhabha, melihat gejala budaya ini sebagai penerjemahan budaya (cultural translation). Kendati peniruan terlihat pada permukaannya, penerjemahan budaya memperlihatkan berbagai pergeseran makna dan nilai, bahkan pengubahan keutamaan yang memengaruhi pemikiran-pemikiran. Karena kebudayaan adalah pembentukan simbol-simbol, penerjemahan budaya melibatkan apa yang disebut Homi Bhabha, praktek-praktek interpelasi (interpelative practices) yang menunjukkan bekerjanya kekuatan-kekuatan lokal dalam penerjemahan budaya.

Menimbang pemikiran Homi Bhabha, bisa disimpulkan modernitas sebagai dampak penerjemahan budaya dibentuk pula oleh kekuatan-kekuatan lokal. Sebab itu, ciri-ciri lokal tidak pernah hilang pada modernitas. Maka, mempersoalkan modernitas sama sekali bukan menempatkan persoalan dunia modern semata-mata. Kebudayaan etnik di mana modernitas berkembang harus disiasati pula karena merupakan komponen yang menghadirkan kekuatan-kekuatan lokal.

Pandangan ini menemukan relevansinya dalam dinamika kebudayaan di Lampung sepanjang 2004, terutama jika kita memahami kesenian sebagai ranah kreatif kebudayaan. Sepanjang 2004, dinamika kesenian di Lampung tidak cuma mengelap warisan-warisan leluhur budaya. Melainkan, warisan leluhur budaya Lampung itu menjadi kekuatan lokal yang menjaga dan menstabilkan masyarakat pada tingkat pemikiran tentang bagaimana menerima dampak modernitas.

Dalam seni rupa, seperti yang diperlihatkan para perupa selama Bandar Lampung Art Expo 2004 digelar, 7–12 Desember 2004, masyarakat melihat nilai-nilai lokal Lampung muncul sebagai spirit dalam proses kreatif para perupa. Tema-tema lukisan mengangkat, bukan saja persoalan masyarakat Lampung, sekaligus memberi inspirasi tentang realitas masyarakat Lampung kini agar mereka lebih punya kekuatan menghadapi risiko-risiko modernisasi.

Mamanoor, kurator dari Galeri Nasional yang terlibat dalam Art Expo 2004, pantas mendapat pujian. Tema kuratorial Sumatransformation yang dia tawarkan bukan saja cerdik tetapi representatif dengan realitas masyarakat di Pulau Sumatra umumnya dan Lampung khususnya, sehingga tafsir-tafsir para perupa atas tema itu menghasilkan keaneragaman yang membawa kebaruan dalam seni rupa.

Tafsir para perupa ini cuma bisa terwujud karena pergulatan yang intens dengan lingkungan masyarakat, yang mengejawantah dalam hasil karsa dan budi berupa karya lukis. Ada semacam penghamburan wacana yang coba digulirkan dalam dunia seni rupa, ditopang semangat dan kekaryaan, sehingga harapan dunia seni rupa mampu mengangkat citra budaya, sosial, ekonomi, dan niaga di Lampung, bukan hal mustahil lagi di tangan perupa Lampung.

Pertumbuhan yang lebih pesat diperlihat dunia kesusastraan dengan dinamikanya yang mampu menggetarkan jagat kesusastraan nasional. Nama-nama baru muncul di panggung kesusastraan, terutama dari kalangan penyair-penyair muda, harus diakui telah mengangkat image Lampung sebagai “penghasil sastrawan” yang tidak bisa diabaikan.

Lampung, meskipun secara bisnis kurang diperhitungkan para investor sebagai daerah investasi, dari segi kesusastraan citra budayanya melambung tinggi. Sebutlah sederet nama sastrawan nasional yang terus berkarya, beberapa diantaranya datang dari iklim kreatif masyarakat Lampung, seperti Isbedy Stiawan Z.S., Edi Samudra K., Oyos Saroso H.N., Dina Oktaviana, Y. Wibowo, Ari Pahala Hutabarat, Jimmly Maruli Alfian, M. Arman A.Z., Binhad Nurrohmat, Dyah Indra Mertawirana, Dahta Gautama, dll. Apalagi Dewan Kesenian Lampung menetapkan agenda kesenian, Lampung Art Festival (LAF), yang digelar tiap tahun; bisa dibilang Lampung punya andil besar menggerakkan perkembangan kesusastraan nasional.

Begitu juga dalam tari. Kita menangkap sentuhan balet, pantomin, teater, dan tai chi. Seluruh gerakan begitu luwes, lincah, dan dinamis. Tidak ada lagi gerakan-gerakan kaku yang biasa kita temukan dalam tari tradisional. Realitas seperti itu terjadi dalam Lampung Tari Peristiwa, even peristiwa tari yang digelar Dewan Kesenian Lampung (DKL) pada September 2004 lalu. Wacana-wacana yang dihaburkan para koreografer dalam peristiwa tari itu, lewat karya-karya tarinya, mampu memberi inspirasi bagi masyarakat tentang bagaimana menghadapi realitas peradaban modern saat ini. Lihat saja bagaimana Manto, Nani Rahayu, Agus, Amin, dan Gandung Hartadi menawarkan tema. Sembilan koreografer yang dilibatkan, empat berasal dari luar Lampung–Valendra (Solo), I Nyoman Sura (Bali), Winarto Ekram (Malang), dan Ana Maini (Ogan Komering Ulu)–memperkaya khazanah tafsir tari.

Lampung Tari Peristiwa, bagai sebuah babakan dari kebangkitan seni tari di Lampung. Ia menjadi fase awal sebelum para kreografer menunjukkan jati dirinya di ajang sekelas Art Summit atau Indonesian Dance Festival. Semoga.

0 komentar:

Posting Komentar